Penemuan yang Diduga Candi di 7 Kota Berbeda

Indramayu

www.cihost.comPenemuan yang Diduga Candi di 7 Kota Berbeda. Balai Pelestarian Cagar Budaya Lampung, Banten, DKI Jakarta dan Jabar melakukan ekskavasi struktur batu bata yang diduga bangunan candi di Ds Sambimaya, Kec Juntinyuat, Kab Indramayu, Jabar.

Ekskavasi dicoba BPCB itu mengaitkan Gedung Arkeologi Jabar, Biro Pariwisata serta Kultur Kab Indramayu, Regu Pakar Cagar Adat( TACB) Indramayu, serta penguasa setempat. Ekskavasi telah dicoba semenjak 2 Desember sampai 11 Desember.

Pimpinan TACB Kab Indramayu Dedy S Musashi menarangkan ekskavasi pengamanan itu ialah tahap dini buat riset berikutnya. Dedy mengimbau supaya warga dekat tidak melaksanakan penghancuran ataupun peluluhlantahkan kepada subjek diprediksi cagar adat( ODCB).

Di dikala yang serupa, Soni Prasetiya Karisma, Pimpinan Regu Reserse Dingkel, berterus terang sukses mengenali gedung bata setinggi 8 lantai. Sony meneruskan, tidak cuma itu, pada pengerukan hari ketiga, timnya pula menciptakan batu bata berupa spesial, yang dikira selaku bagian dari arsitektur bilik.

Sony berkata dalam suatu statment:” Bagian yang diprediksi dari bentuk di bagian barat sudah diidentifikasi. Dimensi serta format genus itu terbuat di era kemudian, mendekati dengan batu bata merah di wilayah kolam renang Batujaya, Kabupaten Karawang.” oleh detik. com dapat.

Soni berterus terang belum dapat menarik kesimpulan dini.” Ini terkini riset kata pengantar ODCB Indramayu,

Soni meningkatkan, butuh dicoba riset lebih lanjut oleh bermacam lembaga semacam Biro Kultur serta Pariwisata Indramayu, BPCB Banten serta Gedung Arkeologi Jawa Barat. Sony juga berambisi warga dekat dapat berfungsi aktif dalam melindunginya.

Sony berkata terdapat keinginan buat melindungi penemuan web itu. Sony berkata:” Bersumber pada hasil kegiatan ini, aku berambisi bisa membagikan data mengenai asal usul adat Kabupaten Alat Mayu.”

Semacam dikabarkan tadinya, pada Oktober tahun kemudian, temuan batu bata merah dengan“ cakar anjing” itu membuat warga Indramayu terkejut. Batu bata merah itu diprediksi ialah bagian dari gedung candi yang terdapat di Dusun Sambi Maya di area Gidenyet Kabupaten Indramayu serta dikala ini lagi dipelajari oleh BPCB.

Dedy S Musashi, Pimpinan Panel Peninggalan Adat( TACB) Kabupaten Indramayu, membetulkan penemuan itu. Beliau menarangkan, polisi serta warga Karuhun Nusantara menciptakan gedung yang dipercayai selaku candi.

“ Batu bata merah itu panjangnya 20×20 centimeter serta dikira selaku bagian dari bentuk candi Budha. Terdapat catatan di telapak kaki anjing. Telapak kaki fauna itu kerap dijadikan ciri batasan agama Buddha.

  • Magelang

Placer di lereng Merapi-Merbabu menemukan batu andesit yang diduga runtuh di atas batu candi. Sejauh ini, penemuan tersebut belum ditemukan. Namun, para ahli memperkirakan bahwa bebatuan tersebut merupakan bangunan candi yang setua Candi Borobudur.

Sekitar sebulan lalu, Ginut (40), mesin penambang pasir artisanal, menemukan batu andesit di area tambang artisanal milik Bukari. Kemudian tumpuklah andesit di sekitar tambang.

Lokasi penambangan adalah Dusun Windussa Brown di Desa Wonolelo, Kecamatan Sawangan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Kabar penemuan tersebut menyebar hingga laporan mencapai Pusat Perlindungan Warisan Budaya Provinsi (BPCB) Jawa Tengah.

Setelah melacak laporan penemuan batuan di lereng Merapi-Merbabu, selanjutnya BPCB Jawa Tengah melakukan kajian lapangan. BPCB memeriksa dari lokasi ini dan mengumpulkan hasil dari lokasi ini.

Penemuan bentuk struktural batuan ini diyakini telah dilakukan pada periode klasik antara abad ke-9 dan ke-10. Diperkirakan hal tersebut dilakukan pada masa Candi Borobudur.

Putu Dananjaya, staf Kelompok Kerja Pengembangan, Pemanfaatan dan Penerbitan BPCB Jawa Tengah, mengatakan: “Candi Borobudur memang zaman klasik, sekitar abad ke-9-10.”

Dia mengatakan bahwa apa yang disebut struktur yang terkubur oleh gunung berapi yang terjadi 1.000 tahun lalu membutuhkan penyelidikan lebih lanjut. Namun, letusan hebat terjadi selama periode ini, mengubur bagian tengah dan candi di wilayah Yogyakarta.

Ia mengatakan: “Kalau sudah 1.000 tahun, masih perlu penyelidikan lebih lanjut. Jelas terjadi letusan besar selama periode ini, mengubur candi-candi di Jawa Tengah dan Yogyakarta. Semoga bisa digali secepatnya.”

Setelah menemukan batu candi tersebut, warga penganut agama Pahoman Sejati melakukan upacara Bhakti Alam di tempat ditemukannya batu candi tersebut. Sebuah upacara untuk berterima kasih kepada Tuhan Yang Maha Esa. Selain itu, warga diajak untuk melindungi warisan leluhur yang ada.

Baca Juga:

Inilah! 10 Destinasi Tempat Bebatuan Paling Bersejarah di Dunia
  • Klaten, Jawa Tengah

Balai Perlindungan Warisan Budaya (BPCB) Jawa Tengah mencari jejak reruntuhan batu candi di Dusun Jaden di Desa Mranggen, Kabupaten Klaten Jatinom. BPCB mengerahkan peralatan radar penetrasi tanah (GPR).

Deny Wahju Hidajat, Intermediate Culture Officer BPCB Jawa Tengah, kepada wartawan di lokasi kejadian: “Ini GPR. Alat ini digunakan untuk menguji konten website Dusun Jaden.

Menurut Deny, radar digunakan untuk menemukan lokasi asli. Sebab selama ini yang ditemukan hanya tumpukan batu candi untuk tambat.

“Setelah kami menemukan struktur asli situs Jaden, kami bisa melakukan penggalian. Yang kami temukan adalah batu kulit yang mudah rusak, andesit dan batu putih,” jelas Deny.

Dengan mengecek kondisi situs, tim BPCB meyakini bahwa situs tersebut adalah candi. Candi tersebut diyakini berasal dari zaman Mataram Kuno.

“Ya, zaman Mataram pada abad ke-8-9 Masehi. Melalui acara ini kita akan melihat dan menganalisa gambar, dan kita akan mempelajari langkah-langkah selanjutnya seperti tes kecepatan,” kata Danny.

Dia melanjutkan, mengingat situasi di lokasi tersebut, penggalian masih bisa dilakukan. Hal ini terlihat dari hasil survei dan kemungkinan penggalian lahan.

Danny berkata: “Ini sangat mungkin karena ada penemuan dan tanahnya sudah ada. Kami akan menyewakan tanah petani, dan kami akan mempelajari dan mendiskusikan hasilnya dengan arkeolog terlebih dahulu.”

Di lokasi yang sama, Sulistyo Andayaningrum, pengolah data BPCB Jawa Tengah, mengatakan bahwa alat GPR digunakan untuk mengetahui ada tidaknya objek abnormal di bawah tanah. Data radar tersebut kemudian akan diolah sebelum dilakukan penelitian lebih lanjut.

Sulis menjelaskan: “Alat itu berjalan lambat karena bisa mendeteksinya. Anda tidak bisa kembali saat Anda berjalan, dan ada sensor di alat itu.”

Dalam kesempatan yang sama, Rika Dayu, budayawan pelaksana BPCB Jawa Tengah menjelaskan bagaimana GPR mencari ombak bawah tanah. Radar dilengkapi dengan sensor.

“Sensornya terletak di bawah alat. Alat itu menembak ke arah tanah dan memantulkan kembali ke alat, sehingga ada gelombang benda di bawahnya,” jelas Dayu di lokasi.

Seperti yang kita ketahui bersama, BPCB Jawa Tengah memeriksa reruntuhan kotak batu besar yang terkelupas dan menemukan bahwa kotak batu tersebut disebabkan oleh Yoni dan gerbang candi di tengah lapangan Klaten. Ternyata masyarakat khawatir akar tanaman akan merusak struktur situs.

“Ternyata akar tanaman akar peri sudah masuk ke dalam struktur situs. Masyarakat khawatir akar tersebut akan menyebabkan kerusakan.

Danny mengatakan sistem perakaran tanaman ini ditemukan di lokasi Dusun Jaden di Desa Mranggen, Kecamatan Jatinnong. BPCB Jawa Tengah juga mengimbau petani untuk tidak menanam pohon.

“Untuk cagar budaya Jaden disarankan tidak menanam tanaman keras seperti sophora flavescens dan jati. Disarankan menanam pepaya dan sayur mayur yang akarnya tidak akan merusak struktur arsitektur cagar budaya tersebut.” Tolak.

Danny mengaku belum bisa memastikan bentuk asli tumpukan batu tersebut. Dia menduga bahwa penemuan itu adalah kuil, bukan Pietertaan.

Danny berkata: “Ini bukan piramida karena tidak ada sumber air. Arsitektur candi mungkin pasti, karena ada sungai karena hubungan filosofis antara candi dan sungai.”

  • Brebes

Puing reruntuhan candi kuno ditemukan di Desa Galuh Timur, Kecamatan Tonjong, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. Reruntuhan candi yang tersusun dari batu bata dan andesit tersebut kemudian dijadikan sebagai objek wisata baru dan banyak dikunjungi wisatawan.

Sisa-sisa candi dan patung dianggap sisa-sisa periode India klasik sekitar abad 72 M. Puing-puing bekas bangunan ditemukan di kawasan hutan Perhutani.

Wijanarto, Direktur Bidang Kebudayaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Brebs, mengatakan temuan ini didapat dari daftar aparat desa, aparat Perhutani, dan bukti sejarah desa masyarakat. Kemudian mereka mendapat laporan dari warga bahwa terdapat reruntuhan bangunan kuno. Vijanato mengatakan, selain reruntuhan candi ditemukan dua buah arca Dwarapala yang sudah dipenggal dan sebuah sumur persegi panjang.

Wijanarto menjelaskan: “Bahan dasar bangunan candi adalah bata merah, bukan andesit. Sedangkan arca Dwarapala yang ditemukan adalah andesit.” Menurutnya, penemuan situs candi purbakala pada Juni 2018 menunjukkan adanya aturan klasik Hindu. Peta selatan Jawa Tengah kemungkinan besar terkait dengan pengaruh negara-negara di wilayah Pasundan, seperti Kerajaan Galuh. Ia menjelaskan: “Pengaruh itu meluas dari Jawa Barat bagian selatan sampai Jawa Tengah bagian selatan yaitu daerah Banyumas.” Husni Mubarok adalah warga Desa Galu Timur, Kecamatan Tongzhong, Kota Breb. Proteksionis cagar budaya Desa Timur, kata Husni Mubarok (Husni Mubarok) mengatakan bahwa kedua candi yang terputus tersebut tidak sesuai dengan hubungan kedua sejoli, Gubernur Kerajaan Majapahit, Pongalang Bravijaya II dan Ayu Diah Pitaloka, putri Kerajaan Pajajaran. , karena mereka hanya dianggap sebagai upeti. Versi lain hanya salah paham, karena sebenarnya Diah Ayu Pitaloka berniat menikah dengan Brawijaya II, bukan sebagai upeti, melainkan cinta murni. Karena kesusahan ayah Ayu Diah Pitaloka, ia memenggal kepala dua burung cinta. Namun, kepala dari kedua patung tersebut belum ditemukan.

  • Semarang

Puing-puing candi kembali ditemukan di dekat pekarangan warga Desa Duduhan, Desa Mijen, Kota Semarang. Sebelumnya, ditemukan sebuah bangunan candi Hindu di kawasan peninggalan Mataram Kuno pada tahun 2015 silam.

Situs tersebut ditemukan setelah pejabat dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Puslit Arkenas) melakukan penggalian lain di situs bangunan candi setinggi 9 × 9 meter yang ditemukan tiga tahun lalu. Dalam hal ini, Arkanas Research Center bekerja sama dengan French East Asian Research Center.

Selama penggalian, tiga candi baru ditemukan. Mereka bertiga bermarkas di gedung pertama yang berhasil diekspos, masing-masing berukuran 5 x 4 meter.

“Lokasi yang baru ditemukan berada di sebelah timur candi purbakala. Awalnya ada pintu masuk ke candi. Setelah diperiksa ternyata ada 3 candi Perwara (bangunan induknya sangat kecil),” Agustijanto, koordinator Pusat Penelitian Akanas, berada di situs penggalian Say.

Menurut koordinator, tim penggalian ketiga candi tersebut akan dilakukan mulai 25 Juli hingga 5 Agustus 2018. Penggalian batu sangat hati-hati. Padahal selebihnya hanyalah fondasi atau kaki candi. “Bagian atasnya hilang,” lanjutnya.

Penemuan ini semakin meyakinkan karena diyakini bahwa kawasan budidaya warga tersebut merupakan kompleks peradaban Mataram Kuno pada awal abad ke-9. Di lokasi yang sama, ditemukan sebuah arca Ganesha yang telah diserahterimakan kepada Museum Ronggowarsito.

Patung Nandi atau Nandiswara naik ke tanah dari tempat itu. Sayangnya, patung banteng dalam mitologi India kini menjadi raksasa. Persimpangan jalan pedesaan di dekat lokasi tempat candi ditemukan diabaikan tanpa kepala dan ekor.

Argus mengatakan, pada intinya, penemuan ketiga candi baru tersebut membuat candi Siwa terlihat jelas. Bentuknya yang disebutnya sama dengan candi Prambanan dan Gedong Songo, dan keberadaannya sejalan dengan masuknya agama Hindu ke Jawa Tengah. Dia menyimpulkan: “Itu memiliki satu candi utama dan tiga Perwara.”

Dalam kesempatan yang sama, Veronique Degroot, peneliti di French Institute of East Asia, mengatakan selain candi di Semarang, ada penggalian lainnya. “Hanya ada satu di Medan, perkampungan Tionghoa. Tapi di Semarang survei sudah dilakukan selama lima tahun. Ini baru seperempat perjalanan, dan kita masih mencari pagar keliling candi. Misalkan candi ini ada lebih baik dari Borobudur, masih muda.

Baca Juga:

10 Temuan Harta Karun Emas Paling Fantastis
  • Batu, Jawa Timur

Balai Penyelamatan Warisan Budaya (BPCB) Jawa Timur terus melakukan ekskavasi di Candi Pendem di Kota Ba, Jawa Timur. Hasilnya, tim arkeolog tidak hanya menemukan Sumur Patty Tan dan pusat arsitektur candi zaman Mpu Sendok, tetapi juga memperoleh arca batu langka berupa arca Dewa Siwa berkepala tiga.

Menurut catatan peninggalan budaya kuno Indonesia pada masa Hindia Belanda. Konon ditemukan sebuah candi bernama Mananjung tempat ditemukannya Candi Bendan tersebut.

Keberadaan candi ini dilaporkan oleh seorang Belanda bernama Ji Van Sevenhoven (Ji Van Sevenhoven) pada tahun 1812 di dekat Sungai Brantas.

Ekskavasi tahap keempat dilakukan di Biara Pendem Junrejo selama seminggu, hingga 18 November 2020. Penggalian candi diawali dengan ditemukannya lima baris batu bata merah besar dan dua baris kuburan di sisi selatan keluarga Desa Pendem.

Kemudian, pada penggalian tahap ketiga, tim arkeolog berhasil melakukan penggalian seluas 10 kali 8 meter persegi. Dari area tersebut berhasil ditampilkan garis besar pondasi bangunan batako berukuran 7,5m x 7,5m. Bangunan-bangunan tersebut disusun menjadi bata merah enam lantai.

Batu bata individu memiliki panjang 35 sampai 36 cm, lebar 25 sampai 26 cm, dan tebal 9 sampai 10 cm. Dipusatkan di sumur Patirtan yang berukuran panjang 2.1 meter kali 2.1 meter dan memiliki kedalaman 1.2 meter. Arah bangunan candi berada pada sudut 103 derajat ke arah utara kompas.

Selain bangunan candi yang terbuat dari tumpukan batu bata merah, tim arkeolog juga menemukan banyak koin Belanda dari tahun 1810 hingga 1825. Dewa Siwa tidak dalam posisi Candi Pendem.

  • Palembang

Warga Koridor RH Umar, Desa Ilir Timur II Ilir Timur II Ilir, Palu Selatan, Pulau Sumatera, menemukan tumpukan batu kapur Kerajaan Hong Kong.

Yani mengatakan, pihaknya berencana menggunakan detektor logam untuk menemukan logam di dekat lokasi tersebut. Lalu, tanpa sengaja dia melihat tumpukan batu di semak-semak. Yani menghampiri tumpukan batu tersebut hingga akhirnya ia laporkan ke Komunitas Pencinta Barang Antik Kreatif (Kompaks) Sriwijaya. “Setelah itu kami gali bersama sekitar 40 cm dan ternyata batu itu adalah bangunan candi.

Tim Kompaks mengetahui bahwa ini adalah bangunan candi dan langsung meneruskan temuannya ke Balai Purbakala Sumatera Selatan (Balar). Selain itu, peneliti langsung datang ke lokasi untuk mengunjungi bangunan candi.

Menurut Yani, manik-manik dan logam banyak ditemukan saat hujan di lokasi. Oleh karena itu, ia bermaksud untuk menemukan barang tersebut, namun menemukan setumpuk batu. Katanya: “Sebenarnya saya pernah menjumpai tasbih setan sebesar marmer di masa lalu. Biasanya akan ditemukan saat hujan.” Lokasi bangunan candi kebetulan berada di pemakaman pribadi warga sekitar. Mereka tidak yakin apakah batu kapur adalah sebuah kuil. Dia berkata: “Ketika kami memeriksanya hari ini, saya menemukan bahwa itu adalah sebuah kuil.”

Dari abad ke-12

Arkeolog Retno Purwanti dari Balar, Sumatera Selatan, mengatakan candi itu memiliki tinggi 44 cm, panjang 40 cm, dan tebal 38 cm. Retno mengungkapkan, candi tersebut diyakini berasal dari abad ke-12. Saat itu, masa kerja Sriwijaya sempat vakum saat berpindah ke Kerajaan Palembang. Sekitar 500 meter dari tempat ditemukannya bangunan candi, itu adalah makam Ki Gede Ing Suro, raja pertama Kerajaan Palembang pada abad ke-15. “Struktur bangunan candi ini mirip dengan makam Ki Gede Ing Suro. Dulu banyak candi yang tersisa di Kerajaan Sriwijaya telah diubah menjadi kuburan. Ini mungkin sama dengan batu candi yang ditemukan.” Ia menjelaskan.